Mampu Mengelola Stres Demi Kesehatan Mental

POJOKNULIS.COM - Kadar stress setiap orang berbeda-beda. Tapi ada satu kesamaan pada dampak yang ditimbulkan, yakni terancamnya kesehatan mental dan ketenteraman jiwa.

Stress membuat isi kepala gaduh, dan kesulitan berpikir jernih. Dengan begitu, orang menjadi tidak bisa menikmati hidup karena perkara ini.

Faktor yang mendatangkan stress bisa bermacam-macam. Mulai tekanan sosial, pekerjaan yang tidak pernah selesai, relationship yang toxic, atau sekedar terjebak situasi insidental yang sepele namun menyebalkan, ketika macet misalnya.


Stress yang dibiarkan menumpuk secara terus menerus dapat berakibat fatal. Pengidapnya cenderung melampiaskannya dengan hal-hal buruk, seperti:

  • Melampiaskan amarah secara random ke orang lain yang tidak tau menahu apapun
  • Merokok
  • Prokastinasi
  • Minum alkohol
  • Menghabiskan waktu dengan tidur dan kemalasan
  • Berlebihian dalam mengonsumsi makanan
  • Mengonsumsi narkotika dan sejenisnya
  • Eskapisme dan menjauhkan diri dari society

Maka dari itu, perlu adanya penanganan yang lebih intensif agar dapat mengendalikan diri dengan baik. Pengelolaan stres dapat menjaga keseimbangan hidup. Dampaknya kita bisa membangun relationship yang ideal dengan kekasih, partner kerja, dan keluarga.

Berikut adalah upaya pengelolaan atau manajemen stress yang bisa kita lakukan:

1. Analisa Faktor yang Menimbulkan Stress

Untuk menuju sembuh, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menganalisa dan mencari tahu, hal-hal yang menimbulkan stress. Catat segala perkembangan untuk memantau selama satu hingga dua minggu, memastikan situasi yang membuat kita merasa tertekan.

Tulis bagaimana kemudian pribadi kita merespons kondisi itu, sehingga kita bisa menggunakan strategi yang lebih mutakhir dalam mengolah stress di lain waktu.

2. Lari dari Perkara yang Tak Perlu

Kurang lebih, hal-hal yang dimaksud adalah: Berhenti tidak enakan, dan bersedia berkata tidak jika tidak bisa melakukan. Menghindari hal-hal yang menjadi beban bagi diri sendiri. Termasuk menghindari orang-orang toxic yang lebih banyak merugikan daripada mendatangkan kebermanfaatan.

Menghindari perbincangan yang murung dan negatif vibes, membuat overthinking, dan hanya menciptakan suasana tidak nyaman. Selain itu mulai memanejemen agenda sehari-hari, sesuai kapasitas diri, dan tinggalkan aktivitas yang sekiranya jika dilakukan esok hari akan lebih optimal, tidak memaksakan.

3. Memperbaiki situasi

Setelah mengetahui kondisi yang menimbulkan stress, perlu adanya niat dan tindakan untuk mengubahnya. Hal ini, semacam antibiotik yang membentengi jiwa dari stres-stres berikutnya.

Misalkan, ketika faktor utama stres adalah sikap orang lain, maka speak up. Katakanlah dan ungkapkan apa yang dirasakan. Komunikasikan dengan cara yang baik dan beretika.

Mengubur dalam-dalam emosi terselubung tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Dengan berdiskusi, kita dan orang yang terlibat akan menemukan titik tengah yang adil.

4. Mencoba Adaptif

Jika hal-hal eksternal tidak sanggup dihindarkan lagi, cobalah untuk logowo ala-ala stoikisme. Menghadapi secara bersahaja, beradaptasi, membentengi jiwa agar tidak terpengaruh terhadap hal-hal yang diluar kendali kita.

Misalkan, melihat kemacetan dari perspektif yang positif. Berhenti mengeluh sembari mendengarkan musik favorit. Menikmati waktu dengan hal-hal yang sekiranya mampu untuk dikerjakan.

5. Luangkan Waktu untuk Hal yang Disukai

Tenggelam dalam hobi merupakan healing terbaik dalam memanjakan diri, lebih mencintai diri sendiri juga sedikit mengurangi stress.

Kita bisa memulai dengan berbagai macam aktivitas sederhana yang menyenangkan, seperti olahraga, mengobrol dengan sahabat, menghabiskan waktu dengan binatang peliharaan, menonton film, membaca wattpadd, menonton anime, dan seterusnya.

6. Datang ke Psikolog

Bila mana stress masih berlanjut secara fatal meskipun telah diupayakan dengan berusaha sedemikian rupa, pergi lah meminta bantuan profesional. Dengan begitu, mental kita akan ditangani secara tepat oleh orang yang ahli. Tidak hanya sekedar self diagnose yang hanya akan menimbulkan praduga tiada ujung. (*)

Baca Juga
Tentang Penulis

Feminis garis lucu

Artikel Menarik Lainnya