Thrifting, Tak Hanya Trendy tapi Juga Jadi Lahan Investasi

POJOKNULIS.COM - Seperti biasanya, beberapa pembeli memilih pakaian yang mereka inginkan. Penjual ikut membantu. Lalu negosiasi. Yang beda, ialah barang yang diperjual belikan.

NARINDRA PRATAMA PUTRA, Purbalingga

Saat berkunjung ke event thriftshop, akan banyak sekali orang berdatangan. Mereka mencari pakaian baru yang sebenarnya tidak baru. Harap maklum, barang yang dijual dalam event ini kebanyakan bekas. Tapi kondisinya baik dan layak pakai.

Thrifting, atau jual beli-barang bekas, yang biasa ditemui adalah pakaian. Saat ini jadi trend yang awalnya terbentuk sebagai usaha menghemat pengeluaran.

Usaha ini banyak dimulai pada akhir abad ke-19 di Amerika Serikat. Sayangnya, usaha ini mendapat stigma yang kurang baik. Bahkan, toko-toko penjual barang thrift ini sering dianggap “toko sampah”.

Kalangan muda saat mengunjungi thrift shop di salah satu supermarket di Purwokerto. PILIH BARANG SECOND: Kalangan muda saat mengunjungi thrift shop yang diadakan salah satu supermarket di Purwokerto.

Saat ini, popularitas thrifting semakin meningkat dan menjadi trend atau bahkan gaya hidup berbagai kalangan di seluruh dunia. Para pendiri thrift store atau thrift shop semakin menyebar luas serta membangun komunitas untuk saling mendukung satu sama lain.

Budaya thrifting ini dilihat menjadi peluang investasi bagi anak muda. Bisnis yang tidak memerlukan modal awal besar ini dapat menghasilkan keuntungan dalam jumlah yang banyak.

"Modal yang saya keluarkan untuk awal usaha saya sekitar Rp 2 juta," tutur Yoga Dwi Ramadhan, salah satu pelaku usaha thriftshop dari Purbalingga, belum lama ini.

Dalam usaha thrift shop ini, berbagai macam produk dapat diperjualbelikan. Mulai dari pakaian bekas, celana, topi, jam tangan, dan sepatu. Penjual harus jeli dalam melihat barang apa yang sedang ramai dan banyak diinginkan oleh khalayak umum.

“Karena kebutuhan pasar itu banyak. Makanya, saya lebih mengerucutkan ke salah satu barang. Seperti crewneck, hoodie, sweater, t-shirt. Saya fokusnya ke outfit bagian atas,” lanjut dari Yoga.

Banyak penjual yang awalnya menjadi pembeli terlebih dahulu sebelum berani terjun ke dunia bisnis thrift. Setelah melihat peluang investasi yang lumayan menjanjikan, mereka baru memberanikan diri memulai bisnis.

“Saya mulai usaha ini dari 1 tahun yang lalu. Alasan saya karena dari SMK memang sudah suka ngawul (thrifting), dulu itu cuma buat konsumsi pribadi saja. Makin ke sini saya lihat banyak yang jualan barang second. Akhirnya saya juga tertarik untuk ikut ke bisnis ini,” ujar Posoadi, salah satu penjual barang thrift dari Purwokerto.

Dalam bisnis ini, ada tantangan yang harus dihadapi para penjualnya. Mulai harga dari pengepul yang naik, serta semakin banyaknya penjual barang thrift. Itu menuntut elaku usaha ini terus berinovasi dalam memasarkan barangnya.

“Kalau nyari barang sekarang agak susah karena udah banyak tahu pusatnya. Terus sekarang dari pengepulnya juga masang harga yang lumayan tinggi. Ya nanti jelas berpengaruh ke harga jual yang kita pasang ke publik,” tutur Posoadi.

Dalam memilih barang yang akan diperdagangkan, para penjual akan menyortir sendiri barang yang masih layak jual. Untuk kriteria barangnya disesuaikan dengan kondisi barang, kemudian Brand barang tersebut. Apakah barang tersebut original atau tidak, dan yang paling penting adalah keinginan pasar.

"Jika merek nya terkenal, maka akan dijual dengan harga yang lumayan tinggi. Yang kedua itu kondisi barangnya. Yang terakhir, kita harus melihat potensi pasar. Barang mana yang sedang ramai diinginkan oleh publik, khususnya remaja,” ungkap Yoga.

Bisnis ini banyak dilakukan secara online dan offline. Mereka juga membuka gerai sendiri di salah satu tempat atau dengan mengadakan event.

”Kalau aku sendiri lebih fokus jualan online, seperti di Instagram dan Tik-tok. Kalau ada event gitu kadang juga ikut, cuma buat keuntungannya lebih ke jualan online. Kalau pas ada event lebih ke dapat relasi baru, bisa bertukar ide gitu lah istilahnya,” ungkap Mentari Fajar Amalia, salah satu penjual barang thrift dari Purbalingga.

Bisnis ini dapat dibilang bisa mendulang keuntungan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan anak muda atau sekedar menambah biaya jajan.

“Keuntungan yang aku dapatkan dalam 1 bulan, paling besar itu sekitar Rp 1 juta," kata Amalia. Sementara, Yoga agak lebih besar labanya yakni mencapai Rp 1,5 juta sebulan.(*)

Baca Juga
Tentang Penulis